Rara: Talenta Musisi Lokal Butuh Ruang untuk Tampil dan Berkarya

Rara: Talenta Musisi Lokal Butuh Ruang untuk Tampil dan Berkarya
Rara Siti Rachmawati

PEKANBARU - Musik bagi sebagian orang mungkin bermula dari kegemaran, tetapi bagi Rara Siti Rachmawati, musik perlahan menjadi ruang untuk menceritakan perjalanan hidup. Setiap lirik yang lahir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan potongan pengalaman yang pernah ia rasakan.

Perjalanan itu kini telah menghasilkan tiga single yang ditulisnya sendiri. Ketiganya memiliki cerita berbeda, mulai dari kegelisahan dalam asmara, fase jatuh cinta, hingga kebimbangan yang kembali hadir dalam perjalanan perasaan.

"Alhamdulillah, untuk sekarang lagu yang Rara tulis sendiri sudah ada 3 single. Semua lagu-lagunya ini merupakan cerita kehidupan Rara," ujar Rara di Pekanbaru, Jumat (02/10/2026).

Ia kemudian menceritakan satu per satu karya tersebut. Lagu Asing Dalam Satu Malam menjadi gambaran ketika dirinya berada dalam fase galau, sementara Semesta Hatiku lahir dari suasana ketika sedang kasmaran. Adapun Aku Harus Apa kembali membawa cerita tentang kebimbangan dalam kisah asmara.

Bagi Rara, keberanian menghasilkan karya tidak selalu harus menunggu seseorang memiliki panggung besar, penggemar yang banyak, atau peralatan produksi yang serba lengkap. Langkah pertama justru dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana yaitu menemukan inspirasi, mengasah kreativitas, kemudian berani memulai.

"Untuk kawan-kawan yang mau memulai bikin lagu tentu pertama kali harus ada inspirasi, kreativitas, dan niat untuk memulai. Masalahnya, banyak anak muda sekarang yang lebih banyak komentar daripada bertindak," tutur Rara.

Dijelaskan, satu di antara persoalan yang kerap menghambat anak muda berkarya adalah rasa cepat puas sekaligus pesimis. Ada yang merasa cukup dengan rutinitas manggung reguler, sementara sebagian lainnya sudah lebih dulu berpikir bahwa karya yang dibuat tidak akan mendapatkan pendengar. Padahal, perkembangan platform digital telah membuka ruang yang jauh lebih luas bagi musisi untuk memperkenalkan karya.

Karena itu, Rara menilai dibutuhkan lebih banyak ruang belajar dan pendampingan agar anak muda tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga memahami bagaimana sebuah karya diproduksi dan dikembangkan.

"Tentu perlu ada workshop atau wadah motivasi agar anak-anak muda ini paham bagaimana cara memproduksi dan mengembangkan karya mereka," jelasnya.

Namun, persoalan berkarya menurut Rara tidak berhenti pada kemampuan teknis. Ada satu hal lain yang tidak kalah penting, yakni mental untuk terus berjalan meski usia bertambah dan kesempatan belum datang sesuai harapan.

"Jangan pernah berpikir sudah umur segini, ngapain berkarya?. Tidak ada kata terlambat. Niat awalnya pun jangan cuma mengejar viral, tapi fokus membuat karya dulu," tambahnya.

Ia mengibaratkan perjalanan seorang musisi dengan seorang pelukis. Seorang pelukis tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggambar tanpa pernah menghasilkan sebuah lukisan. Begitu pula dengan seniman musik yang memiliki bakat, tetapi tidak pernah melahirkan karya.

"Analoginya sama seperti pelukis. Kalau dia tidak menghasilkan lukisan, apakah bisa disebut seniman? Sebakat apa pun kita, kalau tidak punya karya, kita bukan seniman," ucapnya.

Dari pengalaman tersebut, perhatian Rara kemudian mengarah pada ekosistem seni di daerahnya, khususnya Pekanbaru. Ia melihat di Riau memiliki banyak penyanyi dan talenta lokal yang tidak hanya mampu tampil, tetapi juga telah memiliki karya sendiri.

"Kita sebenernya sudah punya band lokal dan musisi lokal yang mampu bersaing di luar sana. Bahkan, kita juga punya tempat seperti Anjungan Seni Idrus Tintin atau Riau Creative Hub dan lain-lainnya, tetapi kenapa tidak dibuat program rutin penampilan karya lokal yang dikemas sekaligus promosi pariwisata," ungkapnya.

Diterangkan, ruang pertunjukan tersebut dapat dikembangkan menjadi panggung yang mempertemukan seniman, masyarakat, wisatawan, sekaligus pelaku ekonomi kreatif. Program yang berjalan rutin juga dapat menjadi kesempatan bagi talenta baru untuk memperkenalkan karya tanpa harus menunggu adanya acara besar.

Ia menyoroti pula fenomena ketika penyanyi yang tampil dalam sejumlah konser maupun kegiatan pemerintah daerah cenderung berasal dari nama-nama yang sama. Sementara di sisi lain, masih banyak talenta lokal yang menunggu kesempatan untuk menunjukkan karya mereka.

"Setiap ada konser dan acara pemda, performer yang dipanggil sering kali orang yang itu-itu saja. Padahal talenta penyanyi lokal di Riau ini banyak sekali yang punya karya, tapi tidak diberi kesempatan," terangnya.

Menanggapi masukan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Tekad Perbatas Setia Dewa, menyatakan komitmennya untuk mengoptimalkan sarana ekonomi kreatif yang ada di Pekanbaru sebagai wadah ekspresi seniman daerah. Pihaknya tengah merancang skema kegiatan seni berkala yang memprioritaskan keterlibatan musisi lokal.

"Kami menyambut baik masukan dari Rara. Dinas Pariwisata Riau berkomitmen akan memberikan ruang yang lebih luas bagi talenta lokal untuk tampil secara rutin di Riau Creative Hub maupun Anjungan Seni Idrus Tintin," ujar Tekad Perbatas Setia Dewa.

Tekad menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan para pelaku seni merupakan kunci penting dalam memperkuat citra pariwisata Riau berbasis kebudayaan. Pihaknya juga berencana menyusun program pelatihan produksi musik untuk meningkatkan kapasitas musisi muda di Riau.

Tekad menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan para pelaku seni merupakan kunci penting dalam memperkuat citra pariwisata Riau berbasis kebudayaan. Pihaknya juga berencana menyusun program pelatihan produksi musik untuk meningkatkan kapasitas musisi muda di Riau.

Di sisi lain, Rara membagikan pengalamannya ia hubungkan dengan potensi budaya dan pariwisata Riau. Menurutnya, panggung musik tidak semestinya hanya berhenti sebagai hiburan tetapi dapat dirancang sebagai bagian dari strategi memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat dari berbagai wilayah.

Sebagai gambaran, Rara menyebut terkait konsep lomba bernyanyi internasional di Kazakhstan yang mempertemukan peserta dari sekitar 20 negara dengan membawakan lagu daerah Kazakhstan. Bagi dia, konsep semacam itu dapat diadaptasi dengan karakter budaya Melayu Riau.

"Sebagai contoh, Voice of Turan di Kazakhstan. Kita tampil bersama penyanyi internasional dari 20 negara dengan membawakan lagu daerah Kazakhstan," tuturnya.

Dari sana, ia membayangkan sebuah kompetisi yang mempertemukan penyanyi dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke, dengan lagu Melayu Riau sebagai materi yang dibawakan. Bukan hanya kompetisi, kegiatan itu juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan budaya lokal kepada peserta dan pengunjung yang datang.

"Harusnya daerah kita bisa bikin konsep serupa, misalnya kompetisi dari Sabang sampai Merauke membawakan lagu Melayu Riau. Pastilah dengan datangnya orang-orang ke sini, tentu bakal ada promosi budaya dan pariwisata Riau bahkan perputaran ekonomi bisa dirasakan," pungkasnya.

Bagi Rara, gagasan itu pada akhirnya kembali kepada satu hal yakni keberanian untuk menciptakan ruang bagi karya. Sebab ketika seniman diberi kesempatan untuk tampil, karya tidak hanya menjadi milik penciptanya tetapi juga dapat menjadi bagian dari branding sebuah daerah. ***

Berita Lainnya

Index